Digital Activism as a New Arena of Human Rights Advocacy in Muslim Society: The #MeToo Movement in Egypt
DOI:
https://doi.org/10.5281/zenodo.19905246Abstrak
Perkembangan teknologi digital telah secara signifikan mengubah lanskap advokasi hak asasi manusia, khususnya dalam konteks sosial-politik di mana wacana publik dibatasi. Studi ini meneliti bagaimana aktivisme digital membentuk arena baru advokasi hak asasi manusia dalam masyarakat Muslim, dengan fokus khusus pada gerakan #MeToo di Mesir. Meskipun diskusi tentang kekerasan seksual di Mesir secara historis dibatasi oleh norma-norma patriarki, stigma budaya, dan pembatasan politik, platform digital telah memungkinkan para penyintas untuk mengartikulasikan pengalaman mereka dan menantang narasi sosial yang dominan. Dengan menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif dan kerangka kerja Transnational Advocacy Network (TAN), penelitian ini menganalisis bagaimana aktivis digital menggunakan strategi seperti politik informasi, politik simbolik, politik pengaruh, dan politik akuntabilitas dalam memajukan klaim hak asasi manusia terkait gender. Temuan menunjukkan bahwa aktivisme digital tidak hanya memperkuat suara-suara yang terpinggirkan tetapi juga mengkonfigurasi ulang ruang advokasi dengan mengubah pengalaman pribadi menjadi wacana publik kolektif. Yang penting, studi ini menunjukkan bahwa aktivisme digital di Mesir beroperasi dalam konteks sosial-religius Muslim, di mana upaya advokasi dibentuk oleh prinsip-prinsip etika Islam. Para aktivis secara strategis mengintegrasikan nilai-nilai seperti keadilan (adl), martabat manusia (karamah), dan perlindungan kehormatan (hifz al-‘ird) untuk melegitimasi tuntutan mereka dan meningkatkan penerimaan sosial. Proses ini mencerminkan apa yang dikonseptualisasikan dalam penelitian ini sebagai adaptasi etika Islam, di mana norma-norma hak asasi manusia global dilokalisasi dalam kerangka keagamaan.
Unduhan
Referensi
Abdelmonem, A. (2023). Egypt’s #MeToo in the Shadow of Revolution. The Palgrave Handbook of Gender, Media and Communication in the Middle East and North Africa, Palgrave Macmillan.
Abu-Lughod, L. (2013). Do Muslim Women Need Saving? (1st ed). Cambridge, Massachusetts : Harvard University Press.
Al-Najjar, A. (2019). #MeToo in Egypt: Challenges and Opportunities. Journal of Middle Eastern Women’s Studies, Vol. 15(No. 2).
An-Na’im, A. A. (2008). Islam and the Secular State: Negotiating the Future of Shari’a. MA: Harvard University Press.
Auda, J. (2008). Maqasid al-Shariah as Philosophy of Islamic Law. The International Institute Of Islamic Thought.
Castells, M. (2015). Networks of Outrage and Hope: Social Movements in the Internet Age (Issue 2). Polity Press.
Donnelly, J. (2013). Universal Human Rights in Theory and Practice (Third Edit). Cornell University Press. https://www.jstor.org/stable/10.7591/j.ctt1xx5q2
Engle Merry, S. (2006). Transnational Human Rights and Local Activism : American Anthropologist, 108(1), 38–51.
Hallaq, W. B. (2009). Shari‘a: Theory, Practice, Transformations. Cambridge University Press.
Hashemi, N. (2009). Islam, Secularism, and Liberal Democracy. Oxford University Press.
Howard, P. N., & Hussain, M. M. (2013). Democracy’s Fourth Wave? Digital Media and the Arab Spring. Oxford University Press. https://doi.org/10.1093/acprof:oso/9780199936953.001.0001
Human Rights Watch. (2023). Events of 2022. https://www.hrw.org/world-report/2023/country-chapters/egypt#:~:text=Judges and prosecutors routinely remanded,pretrial detention in Egyptian law.
Kamali, M. H. (2008). Shari‘ah Law: An Introduction. Oneworld Publications.
Keck, M. E., & Sikkink, K. (1998). Activists Beyond Borders: Advocacy Networks in International Politics. Cornell University Press.
Mahmood, S. (2011). Politics of Piety: The Islamic Revival and the Feminist Subject. Princeton University Press.
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Jisiera: The Journal of Islamic Studies and International Relations

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Copyright holder of all articles belongs to The Journal of Islamic Studies and International Relations. Under CC Attribution-ShareAlike 4.0, readers are free to share (copy and redistribute the material in any medium or format) and adapt (remix, transform, and build upon the material for any purpose, even commercially).


